Penjelasan Medis di Balik Fenomena Tindihan

- Selasa, 2 Maret 2021 | 20:39 WIB
Ilustrasi. Fenomena tindihan sering dikaitkan dengan kejadian mistis, padahal bisa dijelaskan secara medis.(Stefan Keller dari Pixabay Stefan Keller dari Pixabay )
Ilustrasi. Fenomena tindihan sering dikaitkan dengan kejadian mistis, padahal bisa dijelaskan secara medis.(Stefan Keller dari Pixabay Stefan Keller dari Pixabay )

SURABAYA, AYOSURABAYA.COM -- Pernahkah Anda merasa terbangun, namun tidak mampu bicara atau bergerak? Masyarakat kerap kali menyebutnya sebagai ketindihan. Sebenarnya peristiwa yang sering kali dikaitkan dengan kejadian mistis ini memiliki penjelasan secara medis.

Mengutip alodokter.com, ketindihan secara medis disebut dengan sleep paralysis, adalah peristiwa ini biasanya ditandai dengan ketidakmampuan untuk berbicara atau bergerak saat terbangun dari tidur atau ketika akan tidur, berlangsung selama beberapa detik hingga beberapa menit.

Dipicu Kelumpuhan Otot
Otot menjadi tidak aktif saat tidur, merupakan hal yang normal. Pada waktu ketindihan terjadi, ketidakaktifan otot berlanjut untuk beberapa saat dari masa tidur ke masa sadar.

Saat mengalami ketindihan, ada kemungkinan juga mengakibatkan seseorang merasa sulit bernapas. Selain itu, tidak jarang ada yang merasakan sensasi lain, misalnya merasa ada sosok lain bersamanya. Ini merupakan jenis halusinasi yang umum terjadi.

Ada dua jenis sleep paralysis yaitu :

  • Hypnagogic sleep paralysis.

Kelumpuhan atau paralysis jenis ini terjadi sebelum seseorang tertidur sepenuhnya. Umumnya ketika menjelang tidur, tubuh akan terasa makin rileks dan perlahan-lahan kehilangan kesadaran. Bagi seseorang yang mengalami hypnagogic sleep paralysis, dirinya tetap tersadar, tapi dia tidak dapat berbicara atau menggerakkan tubuh.

  • Hypnopompic sleep paralysis.

Kelumpuhan semacam ini berlangsung ketika seseorang tersadar pada akhir masa tidur. Umumnya, masa tidur terbagi menjadi dua, yaitu NREM (non-rapid eye movement) dan REM (rapid eye movement). Porsi NREM adalah sekitar 75 persen dari masa tidur, sementara sisanya menjadi masa tidur REM. Ketika seseorang tersadar sebelum masa REM berakhir, maka pada saat itulah bisa terjadi hypnopompic sleep paralysis.

Menelusuri Faktor Risiko
Beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami fenomena ini adalah ketika mengalami kurang tidur atau pola tidur yang tidak teratur. Faktor usia juga berpengaruh, remaja dan dewasa muda merupakan kalangan yang lebih berisiko.

AYO BACA : Manfaat Minum Susu sebelum Tidur

Halaman:

Editor: Andres Fatubun

Tags

Terkini

5 Sebab Rambut Rontok Parah 100 Helai Tiap Hari

Jumat, 19 November 2021 | 20:20 WIB

Wajib! 5 Makanan yang Dianjurkan untuk Penderita DBD

Kamis, 18 November 2021 | 23:09 WIB

Anda Sering Lemas, Awas itu Gejala Diabetes

Kamis, 18 November 2021 | 20:05 WIB

Setop! Ini 5 Tanda Anda Kecanduan Masturbasi

Rabu, 17 November 2021 | 23:01 WIB

3 Penyebab Penyakit Tulang Belakang, Jangan Anggap Remeh

Minggu, 14 November 2021 | 11:19 WIB

6 Penyebab Insentif Kartu Prakerja Belum Cair

Jumat, 12 November 2021 | 20:25 WIB

8 Makanan Menurunkan Darah Tinggi Hipertensi

Jumat, 12 November 2021 | 20:20 WIB

4 Manfaat Surat Maryam Untuk Ibu Hamil

Kamis, 11 November 2021 | 13:45 WIB

Tips Pilih Pakaian Tidur yang Nyaman

Selasa, 9 November 2021 | 15:05 WIB

10 Makanan Sehat untuk Ibu Hamil, Dijamin Anti Mual

Selasa, 9 November 2021 | 12:30 WIB

11 Camilan Enak yang Efektif Untuk Diet Sehat

Senin, 8 November 2021 | 15:19 WIB
X