Mana yang Lebih Cepat Bikin Gemuk, Mi Instan atau Nasi?

- Minggu, 7 Februari 2021 | 07:42 WIB
Kandungan kalori mi instan hampir lima kali lipat lebih banyak dari nasi. (RitaE dari Pixabay )
Kandungan kalori mi instan hampir lima kali lipat lebih banyak dari nasi. (RitaE dari Pixabay )

GUBENG, SURABAYA.COM -- Mi instan sering menjadi  pengganti nasi yang dianggap tidak terlalu mengenyangkan, sehingga tidak akan membuat gemuk. Padahal pemikiran itu belum tentu benar. Yuk cari tahu, mana jenis makanan yang lebih bersahabat untuk menjaga berat badan, Mi instan atau nasi?

Mengutip alodokter.com, untuk menjawabnya, mari kita bandingkan kalori yang terdapat pada Mi instan dan nasi dengan berat yang sama. Sajian Mi instan sebanyak 35-40 gram atau satu kemasan, mengandung 190 sampai 200 kalori. Sementara itu, nasi putih dengan berat yang sama, hanya mengandung 46 kalori.

AYO BACA : Cara Membuat Nasi Goreng Menjadi Menu yang Lebih Menyehatkan

Mana yang lebih cepat bikin gemuk
Dari perbandingan di atas, kandungan kalori mi instan hampir lima kali lipat lebih banyak dari nasi. Artinya, Mi instan lebih berisiko menyebabkan tubuh cepat gemuk jika dibandingkan nasi. Belum lagi, biasanya Mi instan disajikan dengan telur, sosis, kornet atau keju, yang tentunya menambah kandungan kalori.

Kemudian, ada lagi kebiasaan khas masyarakat di Indonesia, yang mencampurkan mi instan dengan nasi, sehingga kalori yang dikonsumsi menjadi berlipat. Padahal, dalam satu hari yang terdiri dari tiga kali waktu makan, kebutuhan kalori wanita dewasa hanya sekitar 1.800-2.000 dan pria dewasa sekitar 2.200-2.400.

AYO BACA : Nunuk Nuraini, Peracik Bumbu Indomie Meninggal Dunia

Tidak Baik Dikonsumsi Berlebihan
Selain kandungan karbohidrat dan lemak yang tinggi, Mi instan yang disajikan dengan kaldu instan umumnya memiliki kandungan sodium atau garam yang tinggi. Kelebihan asupan sodium dapat membahayakan tubuh, misalnya memperberat kerja ginjal, tekanan darah tinggi, stroke, dan gangguan jantung.

Bukan hanya mi instan, mengonsumsi nasi putih secara berlebihan juga bisa memicu sejumlah penyakit. Menurut penelitian, masyarakat Asia yang mengonsumsi nasi tiap hari lebih berisiko mengalami diabetes dibandingkan dengan masyarakat Eropa yang hanya mengonsumsi nasi kurang dari 5 kali per minggu.

Kini dikenal istilah panduan piring makan untuk memenuhi gizi seimbang, yang mudah dipraktikkan sehari-hari. Nasi atau karbohidrat jenis lain hanya diperbolehkan memenuhi ¼ piring makan, ¼ lagi diisi dengan protein. Sisanya, ½ piring lagi dipenuhi dengan sayuran dan buah.

Halaman:

Editor: Andres Fatubun

Tags

Terkini

X